Senin, 08 Februari 2016

Zikir Sirr & Zikir Jahar



Syaikh Abdullah bin Ahmad Azzubaidi bertanya kepada Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad RA, tentang manakah yg lebih utama antara zikir secara sirr (suara pelan) atau secara jahar (suara keras).

Lalu Imamul Haddad menjawab, "Ketahuilah bahwa ulama tasawwuf berbeda pendapat dalam masalah ini. Kesimpulannya adalah, zikir sirr lebih utama bagi orang yg khawatir akan timbul riya' di dalam hatinya, atau khawatir zikirnya akan mengganggu orang yg sedang sholat. Jika perasaan itu tidak terdapat dalam dirinya, maka zikir jahar lebih utama baginya. Karena di dalamnya terkandung amal kebajikan yg lebih banyak dan manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain. Hal itu lebih kuat pengaruhnya terhadap hati.

Bagi orang yg hatinya merasa masih lemah serta belum sempurna kekhusyu'an dan konsentrasinya, maka hendaklah dia berzikir dengan sirr. Dalam sebuah hadis disebutkan, 'Sebaik-baik zikir adalah yg tersembunyi'. Dan banyak pula hadis yg berbicara tentang keutamaan zikir secara jahar.

Maka jelas bagi kita bahwa masing-masing memiliki kelebihan dan keutamaan. Hal itu sangat bergantung dengan keadaan dan kondisi seseorang. Seorang yg berzikir hendaknya memperhatikan jenis zikir yg lebih baik bagi dirinya serta lebih menenteramkan hati dan sesuai dengan keadaannya. Wallahu a'lam."

Jumat, 05 Februari 2016

IRSYADUL ANAM FI TARJAMATI ARKANIL ISLAM - Kewajiban Menuntut Ilmu


IRSYADUL ANAM FI TARJAMATI ARKANIL ISLAM

(Mufti Betawi Al Habib Usman bin Abdullah
bin ‘Aqil bin Yahya Al Alawi Al Husaini)


Pasal Ke satu : Kewajiban Menuntut Ilmu.
Wajib atas tiap-tiap mukallaf yakni aqil baligh, bahwa ia menuntut
ilmu segala pekerjaan agama yang wajib atasnya. Demikian pula wajib atas seorang bapak atau suami bahwa ia mengajarkan yang demikian itu akan anak-anaknya atau istrinya.

Adapun jikalau keduanya itu tidak dapat mengajarkan mereka itu, maka wajib menyerahkan kepada seorang pengajar. Jika yang belajar itu perempuan maka yang mengajarkannya pun perempuan, melainkan jikalau tiada didapat guru perempuan, maka boleh guru laki-laki, akan tetapi syaratnya aman daripada fitnah, lagi wajib pakai dinding/pembatas antaranya.

Pasal Ke dua : Arti Balligh.
Artinya Balligh yaitu cukup umurnya 15 tahun qamariah (hijriah), yakni hitungan bulan-bulan Islam, sama saja anak laki-laki ataupun perempuan. Demikian pula jika keduanya itu mendapat mimpi jima’ hingga mengeluarkan air mani sejak berumur sembilan tahun atau lebih. Demikian pula anak perempuan jika mendapatkan haid (menstruasi) sejak berumur sembilan tahun atau lebih.

Kamis, 04 Februari 2016

WUDHU RASULULLAH SAW



WUDHU RASULULLAH SAW

“Kudengar Rasulullah SAW bersabda : “Tiadalah seorang berwudhu dengan memperindah (wudhu dengan sebaik-baiknya semampunya), lalu shalat dua rakaat (sunnatul wudhu), kecuali Allah telah mengampuninya antara wudhunya dan shalatnya hingga ia melakukan shalatnya” (Shahih Bukhari)

"Rasulullah SAW keluar dari jamban, maka dihidangkan kepadanya makanan. Kemudian para sahabat berkata : `Apakah kami perlu menyediakan bagi Anda air wudhu?' Beliau menjawab : "Sesungguhnya aku disuruh berwudhu apabila aku akan melakukan shalat."
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani', dari Isma'il bin Ibrahim, dari Ayyub, dari Ibnu Mulaikah yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

"Kubaca dalam Taurat bahwa berkah makanan itu karena berwudhu sebelum makan dan berwudlu sesudahnya". Hal tersebut kukatakan kepada Nabi SAW dan kukabarkan apa yang pernah kubaca dalam Taurat itu, maka Rasulullah SAW bersabda : "Berkah makanan itu disebabkan berwudhu sebelum makan serta sesudahnya."
(Diriwayatkan oleh Yahya bin Musa, dari `Abdullah bin Numair, dari Qeis bin Rabi'*. Hadist ini pun diriwayatkan pula oleh Qutaibah, dari `Abdul Karim al Jurjani, kedua riwayat itu bersumber dari Qeis bin Rabi', dari Abi Hisyam Adahzadan yang bersumber dari Salman r.a.)

• Qeis bin Rabi' menurut Ibnu Ma'in periwayatannya dla'if namun diterima oleh Ibnu Majah dan Abu Daud.


DO'A RASULULLAH SAW. SEBELUM DAN SESUDAH MAKAN



DO'A RASULULLAH SAW. SEBELUM DAN SESUDAH MAKAN

"Pada suatu hari, kami berada di rumah Rasulullah SAW, maka Beliau menyuguhkan suatu makanan. Aku tidak mengetahui makanan yang paling besar berkahnya pada saat kami mulai makan dan tidak sedikit berkahnya di akhir kami makan." Abu Ayub bertanya : "Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya hal ini bisa terjadi?" Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya kami membaca nama Allah waktu akan makan, kemudian duduklah seseorang yang makan tanpa menyebut nama Allah, maka makannya disertai syetan."
(Diriwayatkan oleh Qutaibah Dari Ibnu Luhai'ah, dari Yazid bin Abi Habib, dari Rasyad bin Jandal al Yafi'I, dari Hubeib bin Aus, yang bersumber dari Abu Ayub al Anshari r.a.)

"Rasulullah SAW bersabda :"Bila salah seorang dari kalian makan, tapi lupa menyebut nama Allah atas makanan itu, maka hendaklah ia membaca :"Bismillahi awwalahu wa akhirahu." (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).
(Diriwayatkan oleh Yahya bin Musa, dari abu Daud, dari Hisyam ad Distiwai, dari Budail al `Aqili, dari `Abdullah bin `Ubaid bin `Umair, dari Ummu Kultsum*, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

• Ummu Kultsum binti `Uqbah bin Abi Mu'ith al Umawiyah, adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW dan ia merupakan saudara seibu `Utsman bin Affan r.a.

"Apabila Rasulullah SAW selesai makan, maka Beliau membaca : "Alhamdulillahilladzi ath'amana wa tsaqana wa ja'alana muslimin." (Segala puji bagi Allah Yang memberi makan kepada kami, memberi minum kepada kami dan menjadikan kami orang-orang islam).
(Diriwayatkan oleh Mahmud Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubairi, dari Sufyan as Tsauri dari Abu Hasyim, dari Ibnu Isma'il bin Riyah, dari bapaknya (Riyah bin `Ubaid), yang bersumber dari Abu Sa'id al khudri r.a.)



"Adapun Rasulullah SAW, bila hidangan makan telah diangkat dari hadapannya, maka beliau membaca : "Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira muwadda'iw wa la mustaghnan `anhu Rabbana." (Segala puji bagi Allah, puji yang banyak tiada terhingga. Puji yang baik lagi berkah padanya. Puji yang tidak pernah berhenti. Dan puji tidak akan mampu lisan menuturkannya, ya Allah Rabbal `Alamin)
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Yahya bin Sa'id, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma'danyang bersumber dari Abu Umamah r.a.)

Sabtu, 30 Januari 2016

SAFARI MAULID & DAUROH SELAMA 20 MALAM


HADIRILAH BERAMAI-RAMAI SAFARI MAULID & DAUROH SELAMA 20 MALAM,
Dimulai dari 13 Februari sampai dengan 3 Maret 2016 ba'da isya jam 20.30 WIB.

YANG INSYA ALLAH AKAN DIHADIRI OLEH :
- AL HABIB MUHAMMAD RAFIQ BIN LUQMAN ALKAFF
- AL HABIB MUHAMMAD BIN ALWI SYAHAB

MEMBAHAS KITAB ;
1. AS SYIFA (Imam Qadhi 'Iyadh)
2. ANWARUL MUHAMMADIYAH (Syekh Yusuf bin Ismail An Nabhaniy)

LOKASI DAUROH BERPINDAH-PINDAH (jadwal terlampir).

Acara ini terselenggara berkat kerjasama :
- Majelis Ta'lim Maydanul Anwar - Medan
- DPC Rabithah Alawiyah Medan

**Setiap sore jam 17.00 WIB diadakan majelis rauhah membahas kitab Adab Sulukil Murid di Komplek Bena Garden 1 gg.Sepakat No.23 - Marendal.

Silahkan disebarkan pemberitahuan ini kepada yg lain. Mudah2an jadi amal dakwah bagi kita, amiin

CARA MAKAN RASULULLAH SAW


CARA MAKAN RASULULLAH SAW  

"Sesungguhnya Nabi SAW menjilati jari jemarinya (sehabis makan) tiga kali." 
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Sa'id bin Ibrahim, dari *salah seorang anak Ka'ab bin Malik, yang bersumber dari bapaknya.)

• Nama Ibnul Ka'ab bin Malik (putera Ka'ab bin Malik r.a.) di sini tidak dijelaskan, sedangkan Ka'ab mempunyai anak dua orang, yaitu `Abdullah dan `Abdurrahman. Namun demikian keduanya punya tsiqat (dapat diterima periwayatannya) , dan keduanya merupakan tabi'in besar.  

"Bila Nabi saw. selesai makan, beliau menjilati jari jemarinya yang tiga*."
(Diriwayatkan oleh al Hasan bin `Ali al Khilali, dari `Affan, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas r.a.)

• Yang dimaksud jari yang tiga ,yakni: jari tengah, jari telunjuk dan ibu jari.

JENIS ROTI YANG DIMAKAN OLEH RASULULLAH SAW

"Keluarga Nabi SAW tidak pernah makan roti sya'ir* sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga Rasulullah SAW wafat."
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Matsani, dan diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Basyar, keduanya menerima dari Muhammad bin Ja'far, dari Syu'bah, dari Ishaq, dari `Abdurrahman bin Yazid, dari al Aswad bin Yazid*, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

• Sya'ir, khintah dan bur, semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indinesia dengan "gandum" sedangkan sya'ir merupakan gandum yang paling rendah mutunya. Kadang kala ia dijadikan makanan ternak, namun dapat pula dihaluskan untuk makanan manusia. Roti yang terbuat dari sya'ir kurang baik mutunya, sya'ir lebih dekat kepada jelai daripada gandum.

• Abdurrahman bin Yazid dan al Aswad bin Yazid bersaudara, keduanya rawi yang tsiqat.  

"Rasulullah SAW tidak pernah makan di atas meja dan tidak pernah makan roti gandum yang halus, hingga wafatnya."
(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari'Abdullah bin `Amr –Abu Ma'mar-, dari `Abdul Warits, dari Sa'id bin Abi `Arubah, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas r.a.)

LAUK PAUK YANG DIMAKAN RASULULLAH SAW

"Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: "Saus yang paling enak adalah cuka." `Abdullah bin `Abdurrahman berkata :"Saus yang paling enak adalah cuka."
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Shal bin `Askar dan `Abdullah bin `Abdurrahman, keduanya menerima dari Yahya bin Hasan, dari Sulaiman bin Hilal, Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari `Aisyah r.a.)  

"Rasulullah SAW bersabda :"Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi."
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, daari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkan pula oleh Abu Nu'aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari ` Abdullah bin `Isa, dari seorang laki-laki ahli syam yang bernama Atha', yang bersumber dari Abi Usaid r.a.*)

• Abi Usaid adalah `Abdullah bin Tsabit az Zarqi. 
     
"Nabi SAW menggemari buah labu. maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu, atau diundang untuk makan makanan itu (labu). Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya."
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muhammad bin Ja'far, dan diriwayatkan pula oleh `Abdurrahman bin Mahdi, keduanya menerima dari Syu'bah, dari Qatadah yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

"Nabi SAW menyenangi kue-kue manis (manisan) dan madu."
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ibrahim ad Daruqi, juga diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib dan diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, mereka menerimanya dari Abu Usamah, dari Hisyam bin `Urwah yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

"Nabi SAW diberi makan daging, maka diambilkan baginya bagian dzir'an*. Bagian dzir'an kesukaannya. Maka Rasulullah SAW mencicipi sebagian daripadanya. "
(Diriwayatkan oleh Washil bin `Abdul A'la, dari Muhammad bin Fudlail, dari Abi Hayyan at Taimi, dari Abi Zar'ah, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)

• Dzir'an adalah bagian tubuh binatang dari dengkul sampai bagian kaki.  

"Daging yang paling baik adalah punggung."
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad, dari Mis'ar, dari Syaikhan, dari Fahm,* yang bersumber dari `Abdullah bin Ja'far r.a.)

• Namanya adalah Muhammad bin `Abdullah, disebut pula Muhammad bin `Abdurrahman, juga disebut Abu Hay.

Senin, 25 Januari 2016

TEMPAT BERTELEKAN (BERTUMPU/BERSANDAR) RASULULLAH SAW


TEMPAT BERTELEKAN (BERTUMPU/BERSANDAR) RASULULLAH SAW 

"Aku pernah melihat Rasulullah SAW duduk bertelekan pada sebuah bantal di sebelah kirinya."
(Diriwayatkan oleh `Abbas bin Muhammad ad Dauri al Baghdadi, dari Ishaq bin Manshur, dari Israil, dari simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)  

"Rasulullah SAW bersabda : "Aku tak mau makan sambil bertelekan, aku tak mau makan sambil bertelekan."
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari `Ali bin al `Aqmar, yang bersumber dari Abu Juhaifah r.a.)  

"Aku melihat Rasulullah SAW duduk bertelekan pada sebuah bantal."
(Diriwayatkan oleh Yusuf bin `Isa, dari Waki', dari Ismail, dari Simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.) 

CARA BERTELEKAN RASULULLAH SAW 

"Aku masuk ke rumah Rasulullah SAW tatkala beliau sedang sakit yang membawa ajalnya. Di kepalanya ada balutan kain kuning. Kepadanya kuucapkan salam, kemudian beliau bersabda : "Wahai Fadlal, apa kabarmu?"
Aku menjawab : "Baik wahai Rasulullah !"
Rasulullah bersabda : "Kuatkan balutan yang ada di kepalaku ini !"
Fadlal meneruskan ceritanya : "Maka kulakukan perintah Rasulullah SAW itu. Kemudian beliau duduk, lalu meletakkan tangannya di atas bahuku, kemudian beliau berdiri lalu masuk ke masjid."
Dan kisah selanjutnya terdapat dalam hadist perihal wafatnya Rasulullah SAW
(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Muhammad bin al Mubarak, dari *`Atha' bin Muslim al Khaffaf al Halabi,dari Ja'far bin Furqan, dari `Atha' bin Abi Rabbah,yang bersumber dari *al Fadlal bin `Abbas r.a.)

• Al Fadlal bin `Abbas r.a. adalah sahabat yang masyhur, ia adalah anak sulung `Abbas r.a. (paman Rasulullah SAW)
• 'Atha' bin Muslim al Khaffaf al Halabi, di dha'ifkan oleh Abu Daud, dan menurut Abu Hatim tidak boleh dipakai hujjah periwayatannya.

"Sesungguhnya Nabi SAW sedang dalam keadaan sakit. Beliau keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada Usamah bin Zaid. Waktu itu beliau memakai kain Qithri (buatan Qatar) yang diselempangkan. Kemudian Beliau shalat bersama mereka (para sahabat)."
(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari `Amr `Ashim, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, yang bersumber dari Anas r.a.)